PENDAHULUAN
Keterampilan abad ke-21 menjadi topik yang banyak dibahas beberapa waktu terakhir. Tanggapan setiap orang terhadap topik tersebut bervariasi. Sebagian orang menanggapi dengan serius, sebagian orang menanggapi biasa-biasa saja, dan sebagian lagi tidak menanggapinya. Tidak adanya tanggapan pada kelompok terakhir belum tentu menunjukkan tidak adanya kepedulian, namun kemungkinan juga disebabkan oleh sedikitnya pemahaman terhadap keterampilan abad ke-21. Termasuk ke dalam kelompok manakah kita? Apakah kita sudah mengetahui latar belakang digaungkannya keterampilan abad ke-21? Apakah kita sudah cukup memahami macam-macam keterampilan abad ke-21? Apakah kita sudah memahami bagaimana pembelajaran yang sesuai dalam rangka menyiapkan generasi untuk menguasai keterampilan abad ke-21? Apakah kita mengetahui tentang apa yang harus dilakukan sesuai kemampuan dan kapasitas kita sebagai seorang pendidik dan calon pendidik? Semoga tulisan berikut cukup memberi gambaran tentang hal-hal tersebut.
Studi yang dilakukan Trilling dan Fadel (2009) menunjukkan bahwa tamatan sekolah menengah, diploma dan pendidikan tinggi masih kurang kompeten dalam hal: (1) komunikasi oral maupun tertulis, (2) berpikir kritis dan mengatasi masalah, (3) etika bekerja dan profesionalisme, (4) bekerja secara tim dan berkolaborasi, (5) bekerja di dalam kelompok yang berbeda, (6)menggunakan teknologi, dan (7) manajemen projek dan kepemimpinan
KETERAMPILAN ABAD KE-21
Berbagai organisasi mencoba merumuskan berbagai macam kompetensi dan keterampilan yang diperlukan dalam menghadapi abad ke-21. Namun, satu hal penting yang perlu diperhatikan adalah bahwa mendidik generasi muda di abad ke-21 tidak bisa hanya dilakukan melalui satu pendekatan saja. Beberapa organisasi tersebut dan hasil pengembangannya disampaikan sekilas sebagai berikut.
Wagner (2010) dan Change Leadership Group dari Universitas Harvard mengidentifikasi kompetensi dan keterampilan bertahan hidup yang diperlukan oleh siswa dalam menghadapi kehidupan, dunia kerja, dan kewarganegaraan di abad ke-21 ditekankan pada tujuh (7) keterampilan berikut: (1) kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah, (2) kolaborasi dan kepemimpinan, (3) ketangkasan dan kemampuan beradaptasi, (4) inisiatif dan berjiwa entrepeneur, (5) mampu berkomunikasi efektif baik secara oral maupun tertulis, (6) mampu mengakses dan menganalisis informasi, dan (7) memiliki rasa ingin tahu dan imajinasi.
US-based Apollo Education Group mengidentifikasi sepuluh (10) keterampilan yang diperlukan oleh siswa untuk bekerja di abad ke-21, yaitu keterampilan berpikir kritis, komunikasi, kepemimpinan, kolaborasi, kemampuan beradaptasi, produktifitas dan akuntabilitas, inovasi, kewarganegaraan global, kemampuan dan jiwa entrepreneurship, serta kemampuan untuk mengakses, menganalisis, dan mensintesis informasi (Barry, 2012). Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh OECD didapatkan deskripsi tiga (3) dimensi belajar pada abad ke-21 yaitu informasi, komunikasi, dan etika dan pengaruh sosial (Ananiadou & Claro, 2009). Kreativitas juga merupakan salah satu komponen penting agar dapat sukses menghadapi dunia yang kompleks (IBM, 2010).
US-based Partnership for 21st Century Skills (P21), mengidentifikasi kompetensi yang diperlukan di abad ke-21 yaitu “The 4Cs”- communication, collaboration, critical thinking, dan creativity. Kompetensi-kompetensi tersebut penting diajarkan pada siswa dalam konteks bidang studi inti dan tema abad ke-21. Assessment and Teaching of 21st Century Skills (ATC21S) mengkategorikan keterampilan abad ke-21 menjadi 4 kategori, yaitu way of thinking, way of working, tools for working dan skills for living in the world (Griffin, McGaw & Care, 2012). Way of thinking mencakup kreativitas, inovasi, berpikir kritis, pemecahan masalah, dan pembuatan keputusan. Way of working mencakup keterampilan berkomunikasi, berkolaborasi dan bekerjasama dalam tim. Tools for working mencakup adanya kesadaran sebagai warga negara global maupun lokal, pengembangan hidup dan karir, serta adanya rasa tanggung jawab sebagai pribadi maupun sosial. Sedangkan skills for living in the world merupakan keterampilan yang didasarkan pada literasi informasi, penguasaan teknologi informasi dan komunikasi baru, serta kemampuan untuk belajar dan bekerja melalui jaringan sosial digital.
Delors Report (1996) dari International Commission on Education for the Twenty-first Century, mengajukan empat visi pembelajaran yaitu pengetahuan, pemahaman, kompetensi untuk hidup, dan kompetensi untuk bertindak. Selain visi tersebut juga dirumuskan empat prinsip yang dikenal sebagai empat pilar pendidikan yaitu learning to know, lerning to do, learning to be dan learning to live together. Kerangka pemikiran ini dirasa masih relevan dengan kepentingan pendidikan saat ini dan dapat dikembangkan sesuai dengan keperluan di abad ke-21 (Scott, 2015b). Pada bagian berikut dijelaskan sekilas tentang kompetensi dan keterampilan sesuai empat pilar pendidikan yang terdapat pada Delors Report.
Learning to Know
Belajar mengetahui merupakan kegiatan untuk memperoleh, memperdalam dan memanfaatkan materi pengetahuan. Penguasaan materi merupakan salah satu hal penting bagi siswa di abad ke-21. Siswa juga harus memiliki kemauan untuk belajar sepanjang hayat. Hal ini berarti siswa harus secara berkesinambungan menilai kemampuan diri tentang apa yang telah diketahui dan terus merasa perlu memperkuat pemahaman untuk kesuksesan kehidupannya kelak. Siswa harus siap untuk selalu belajar ketika menghadapi situasi baru yang memerlukan keterampilan baru. Pembelajaran di abad ke-21 hendaknya lebih menekankan pada tema pembelajaran interdisipliner. Empat tema khusus yang relevan dengan kehidupan modern adalah: 1) kesadaran global; 2) literasi finansial, ekonomi, bisnis, dan kewirausahaan; 3) literasi kewarganegaraan; dan 4) literasi kesehatan. Tema-tema ini perlu dibelajarkan di sekolah untuk mempersiapkan siswa menghadapi kehidupan dan dunia kerja di masa mendatang dengan lebih baik.
Learning to Do
Agar mampu menyesuaikan diri dan beradaptasi dalam masyarakat yang berkembang sangat cepat, maka individu perlu belajar berkarya. Siswa maupun orang dewasa sama-sama memerlukan pengetahuan akademik dan terapan, dapat menghubungkan pengetahuan dan keterampilan, kreatif dan adaptif, serta mampu mentrasformasikan semua aspek tersebut ke dalam keterampilan yang berharga.
a. Keterampilan berpikir kritis
Keterampilan ini merupakan keterampilan fndamental pada pembelajaran di abad ke-21. Keterampilan berpikir kritis mencakup kemampuan mengakses, menganalisis, mensintesis informasi yang dapat dibelajarkan, dilatihkan dan dikuasai (P21, 2007a; Redecker et al 2011). Keterampilan berpikir kritis juga menggambarkan keterampilan lainnya seperti keterampilan komunikasi dan informasi, serta kemampuan untuk memeriksa, menganalisis, menafsirkan, dan mengevaluasi bukti.
Pada era literasi digital dimana arus informasi sangat berlimpah, siswa perlu memiliki kemampuan untuk memilih sumber dan informasi yang relevan, menemukan sumber yang berkualitas dan melakukan penilaian terhadap sumber dari aspek objektivitas, reliabilitas, dan kemutahiran.
b. Kemampuan menyelesaikan masalah
Keterampilan memecahkan masalah mencakup keterampilan lain seperti identifikasi dan kemampuan untuk mencari, memilih, mengevaluasi, mengorganisir, dan mempertimbangkan berbagai alternatif dan menafsirkan informasi. Seseorang harus mampu mencari berbagai solusi dari sudut pandang yang berbeda-beda, dalam memecahkan masalah yang kompleks. Pemecahan masalah memerlukan kerjasama tim, kolaborasi efektif dan kreatif dari guru dan siswa untuk dapat melibatkan teknologi, dan menangani berbagai informasi yang sangat besar jumlahnya, dapat mendefinisikan dan memahami elemen yang terdapat pada pokok permasalahan, mengidentifikasi sumber informasi dan strategi yang diperlukan dalam mengatasi masalah. Pemecahan masalah tidak dapat dilepaskan dari keterampilan berpikir kritis karena keterampilan berpikir kritis merupakan keterampilan fundamental dalam memecahkan masalah. Siswa juga harus mampu menerapkan alat dan teknik yang tepat secara efektif dan efisien untuk menyelesaikan permasalahan.
c. Komunikasi dan kolaborasi
Kemampuan komunikasi yang baik merupakan keterampilan yang sangat berharga di dunia kerja dan kehidupan sehari-hari. Kemampuan komunikasi mencakup keterampilan dalam menyampaikan pemikiran dengan jelas dan persuasif secara oral maupun tertulis, kemampuan menyampaikan opini dengan kalimat yang jelas, menyampaikan perintah dengan jelas, dan dapat memotivasi orang lain melalui kemampuan berbicara. Kolaborasi dan kerjasama tim dapat dikembangkan melalui pengalaman yang ada di dalam sekolah, antar sekolah, dan di luar sekolah (P21, 2007a). Siswa dapat bekerja bersama-sama secara kolaboratif pada tugas berbasis proyek yang autentik dan mengembangkan keterampilannya melalui pembelajaran tutor sebaya dalam kelompok. Pada dunia kerja di masa depan, keterampilan berkolaborasi juga harus diterapkan ketika menghadapi rekan kerja yang berada pada lokasi yang saling berjauhan. Keterampilan komunikasi dan kolaborasi yang efektif disertai dengan keterampilan menggunakan teknologi dan sosial media akan memungkinkan terjadinya kolaborasi dengan kelompok-kelompok internasional.
d. Kreativitas dan inovasi
Pencapaian kesuksesan profesional dan personal, memerlukan keterampilan berinovasi dan semangat berkreasi. Kreativitas dan inovasi akan semakin berkembang jika siswa memiliki kesempatan untuk berpikir divergen. Siswa harus dipicu untuk berpikir di luar kebiasaan yang ada, melibatkan cara berpikir yang baru, memperoleh kesempatan untuk menyampaikan ide-ide dan solusi-solusi baru, mengajukan pertanyaan yang tidak lazim, dan mencoba mengajukan dugaan jawaban. Kesuksesan individu akan didapatkan oleh siswa yang memiliki keterampilan kreatif. Individu-individu yang sukses akan membuat dunia ini menjadi tempat yang lebih baik bagi semuanya.
e. Literasi informasi, media, dan teknologi
Literasi informasi yang mencakup kemampuan mengakses, mengevaluasi dan menggunakan informasi sangat penting dikuasai pada saat ini. Literasi informasi memiliki pengaruh yang besar dalam perolehan keterampilan lain yang diperlukan pada kehidupan abad ke-21. Seseorang yang berkemampuan literasi media adalah seseorang yang mampu menggunakan keterampilan proses seperti kesadaran, analisis, refleksi dan aksi untuk memahami pesan alami yang terdapat pada media. Kerangka literasi media terdiri atas kemampuan untuk mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dan menciptakan pesan dalam berbagai bentuk media, menciptakan suatu pemahaman dari peranan media pada masyarakat, dan membangun keterampilan penting dari informasi hasil penyelidikan dan ekspresi diri. Literasi media juga mencakup kemampuan untuk menyampaikan pesan dari diri dan untuk memberikan pengaruh dan informasi kepada orang lain.
f. Literasi informasi, komunikasi, dan teknologi (ICT)
Kemampuan literasi ICT mencakup kemampuan mengakses, mengatur, mengintegrasi, mengevaluasi, dan menciptakan informasi melalui penggunaan teknologi komunikasi digital. Literasi ICT berpusat pada keterampilan berpikir tingkat tinggi dalam mempertimbangkan informasi, media, dan teknologi di lingkungan sekitar. Setiap negara hendaknya menumbuhkan secara luas keterampilan ICT pada masyarakatnya karena jika tidak, negara tersebut dapat tertinggal dari perkembangan dan kemajuan pengetahuan ekonomi berbasis teknologi. Terdapat beberapa keterkaitan antara tiga bentuk literasi yang meliputi literasi komunikasi informasi, media dan teknologi. Penguasaan terhadap keterampilan tersebut memungkinkan penguasaan terhadap keterampilan dan kompetensi lain yang diperlukan untuk keberhasilan kehidupan di abad ke-21 (Trilling & Fadel, 2009).
Learning to Be
Keterampilan akademik dan kognitif memang keterampilan yang penting bagi seorang siswa, namun bukan merupakan satu-satunya keterampilan yang diperlukan siswa untuk menjadi sukses. Siswa yang memiliki kompetensi kognitif yang fundamental merupakan pribadi yang berkualitas dan beridentitas. Siswa seperti ini mampu menanggapi kegagalan serta konflik dan krisis, serta siap menghadapi dan mengatasi masalah sulit di abad ke-21. Secara khusus, generasi muda harus mampu bekerja dan belajar bersama dengan beragam kelompok dalam berbagai jenis pekerjaan dan lingkungan sosial, dan mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.
a. Keterampilan sosial dan lintas budaya
Keterampilan sosial dan lintas budaya yang baik sangat penting dalam mewujudkan kesuksesan di sekolah maupun kehidupan. Keterampilan ini memungkinkan individu untuk berinteraksi secara efektif dengan orang lain (misalnya mengetahui saat yang tepat untuk mendengarkan dan berbicara, dan bagaimana memperlakukan diri secara hormat, secara profesional), bekerja secara efektif dalam sebuah tim yang memiliki anggota beragam (misalnya menghormati perbedaan budaya dan berkolaborasi dengan orang-orang yang berasal dari berbagai kondisi sosial dan latar belakang budaya), berpikiran terbuka terhadap ide-ide dan nilai-nilai yang berbeda, dan menggunakan perbedaan sosial dan budaya untuk menghasilkan ide-ide, inovasi dan kualitas kerja yang lebih baik.
Memiliki keterampilan sosial yang baik dapat membantu siswa untuk membuat sebuah keputusan dengan baik. Keterampilan sosial yang baik pada anak-anak dan remaja dapat mempengaruhi kinerja akademis mereka, sikap, hubungan sosial dan keluarga, dan keterlibatan dalam kegiatan ekstrakurikuler. Kemampuan berempati juga termasuk keterampilan sosial yang diharapkan tumbuh di kehidupan abad ke-21 (National Research Council, 2012; P21, 2007a). Kesempatan untuk mengembangkan ketahanan emosional dan empati harus dirancang secara eksplisit (Leadbeater, 2008). Steedly et al. (2008) menyatakan adanya keyakinan bahwa anak-anak pada umumnya memperoleh keterampilan sosial yang positif melalui interaksi sehari-hari dengan orang dewasa dan teman sebaya mereka. Namun, guru dan orang tua harus memperkuat pembelajaran ini dengan teladan secara langsung.
Tanggung jawab pribadi, pengaturan diri, dan inisiatif
Tingginya tingkat interaksi dan kerja sama tim dalam lingkungan kerja di abad ke-21 diharapkan dapat diantisipasi dengan meningkatkan kualitas pribadi siswa. Kemampuan pengaturan diri adalah jantung dari pembelajaran abad ke-21. Siswa yang mandiri bertanggung jawab terhadap proses belajarnya sendiri dan bersedia meningkatkan kemampuan sepanjang kariernya. Herring (2012) berpendapat bahwa siswa yang mandiri mendapatkan motivasi dari dalam dirinya sendiri. Siswa mandiri paham bahwa semangat belajar adalah kemampuan dasar yang akan membuat mereka berhasil di tempat kerja.
Kemampuan beradaptasi adalah kemampuan untuk menanggapi perubahan kondisi ekonomi dan pasar serta menguasai keterampilan baru dengan cepat. Kemampuan ini merupakan salah satu dari tiga kompetensi yang paling dibutuhkan di dunia kerja abad ke-21. Hal penting lainnya adalah
fleksibilitas dalam berbagai pengaturan kerja dan sosial dan menunjukkan inisiatif, ketangkasan mental dan rasa ingin tahu, yang dapat diwujudkan dengan beragam teknologi berbasis web yang tersedia. Dengan menggunakan sumber daya teknologi sebagai sumber belajar informal memungkinkan siswa untuk memiliki kemampuan berkolaborasi tinggi, mudah berbagi dan bertukar pengetahuan, dan mengarahkan diri sendiri untuk terus belajar (Herring, 2012). Kemampuan lain yang bermanfaat adalah kemampuan untuk merefleksikan kelebihan dan kekuatan yang ada dalam diri siswa dan meningkatkan manajemen waktu. Pelatihan untuk meningkatkan keterampilan tersebut dapat diadakan oleh pihak sekolah untuk membantu siswa mempersiapkan diri terjun di dunia kerja dan kehidupan di abad ke-21 (P21, 2011).
b. Keterampilan berpikir logis
Generasi muda saat ini hidup di dunia yang lebih menantang, sehingga mereka perlu mengembangkan kemampuan berpikir logis terhadap isu-isu global yang kompleks dan penting. Mereka harus siap untuk mengatasi berbagai masalah, termasuk konflik manusia, perubahan iklim, kemiskinan, penyebaran penyakit dan krisis energi. Sekolah harus menyediakan berbagai peluang, bimbingan dan dukungan agar siswa memahami peran dan tanggung jawabnya di dunia nyata, serta mengembangkan kompetensi yang memungkinkan mereka untuk memahami situasi dan lingkungan baru.
c. Keterampilan metakognitif
P21 telah mengidentifikasi pembelajaran mandiri sebagai salah satu keterampilan dasar dalam kehidupan dan karir yang diperlukan untuk mempersiapkan pendidikan dan pekerjaan di abad ke-21 (P21, 2007a). Metakognisi didefinisikan sebagai 'thinking about thinking'. Seseorang yang memiliki pengetahuan metakognitif berarti menyadari berapa banyak mereka memahami topik pembelajaran dan faktor-faktor yang mempengaruhi pemahaman mereka. Keterampilan metakognitif dapat meningkatkan pembelajaran dan pemahaman siswa. Beberapa langkah penting untuk mengajarkan keterampilan metakognitif sebagai berikut: (a) ajarkan kepada siswa bahwa belajar itu tidak terbatas jumlahnya dan kemampuan seseorang untuk belajar dapat diubah, (b) ajarkan bagaimana menetapkan tujuan belajar dan merencanakan pencapaiannya, dan (c) berikan siswa banyak kesempatan untuk berlatih memantau kegiatan belajarnya secara akurat. Tanamkan pada siswa bahwa hal-hal tersebut penting dan merupakan kebutuhan bagi siswa itu sendiri.
d. Kemampuan berpikir berwirausaha
Kreativitas dan berpikir kewirausahaan juga merupakan keterampilan esensial di abad ke-21. Pertumbuhan lapangan pekerjaan yang cepat dan industri yang sedang berkembang membutuhkan kreativitas pekerja, termasuk kemampuan untuk berpikir yang tidak biasa (out of the box), memikirkan kebijakan konvensional, membayangkan skenario baru dan menghasilkan karya yang menakjubkan. Memiliki pola pikir kewirausahaan (kemampuan untuk mengenali dan memanfaatkan peluang dan kesanggupan untuk bertanggung jawab dan menanggung resiko), memungkinkan seseorang untuk menciptakan lapangan kerja bagi diri mereka sendiri dan orang lain. Oleh karena itu, siswa harus dilatih menjawab pertanyaan dan membuat keputusan dengan cepat. Mereka juga harus dilatih untuk berpikir inventif, mengamati dan mengevaluasi peluang dan ide-ide baru. Namun demikian, penting untuk diperhatikan bahwa ide-ide tersebut harus bermanfaat atau berdampak positif bagi organisasi dan komunitas tempat tinggal atau kerja. Kegiatan kewirausahaan di sekolah harus dirancang sedemikian rupa sehingga memungkinkan siswa untuk memimpin dan menumbuhkan otonomi yang lebih besar (P21, 2008).
Belajar untuk belajar dan kebiasaan belajar sepanjang hayat
Sepanjang hidupnya, seseorang akan selalu menemukan informasi baru yang mengubah pengetahuan yang dimilikinya. Bolstad (2011) berpendapat bahwa sekolah yang berorientasi masa depan harus memperluas kapasitas intelektual siswa dan memperkuat kemauan dan kemampuan mereka untuk terus belajar sepanjang hidup. Keterampilan belajar untuk belajar, memiliki keterbukaan dan komitmen untuk belajar seumur hidup dan mempelajari kehidupan secara lebih luas
sangat penting bagi siswa untuk beradaptasi. Kemampuan siswa untuk belajar lebih diutamakan dibandingkan akumulasi pengetahuan.
Learning to Live Together
Berbagai bukti menunjukkan bahwa siswa yang bekerja secara kooperatif dapat mencapai level kemampuan yang lebih tinggi jika ditinjau dari hasil pemikiran dan kemampuan untuk menyimpan informasi dalam jangka waktu yang panjang dari pada siswa yang bekerja secara individu. Belajar bersama akan memberikan kesempatan bagi siswa untuk terlibat aktif dalam diskusi, senantiasa memantau strategi dan pencapaian belajar mereka dan menjadi pemikir kritis.
Menghargai keanekaragaman
Pada abad ke-21, siswa harus turut berperan dalam kegiatan pendidikan. Peran aktif siswa membantu mereka mengembangkan kompetensi dalam kehidupan dan bekerja bersama dalam masyarakat yang memiliki keanekaragaman budaya dan organisasi. Mereka harus belajar bahwa mereka tidak akan selalu dihargai, tetapi mereka harus mencari dan menggunakan bakat dan ide-ide mereka di antara beragam siswa lainnya. Ini merupakan keterampilan penting yang harus dilatih dan sering digunakan oleh siswa.
Keterampilan ini melibatkan rasa hormat dan menghargai permasalahan orang lain dan budaya yang berbeda dari budaya mereka, sehingga mereka akan memperoleh keterampilan sosial dan lintas budaya (Barrett et al., 2014). Hal ini juga akan membangun kesadaran dan pengetahuan tentang perbedaan yang ada di antara individu dan masyarakat. Lingkungan sekolah harus menawarkan kemungkinan untuk merancang kegiatan pembelajaran yang dapat memberikan kesempatan bagi anak muda untuk menghargai, bergaul dengan baik dan hidup berdampingan secara damai di lingkungan dengan kebudayaan yang sangat beragam (ini merupakan keterampilan hidup abad ke-21 yang sangat dihargai). Oleh karena itu, ada kebutuhan mendesak bagi guru untuk merancang kegiatan belajar kolaboratif dan sesuai dengan kehidupan nyata yang dapat mengembangkan pemahaman, keterampilan dan nilai-nilai siswa.
Teamwork dan interconnectedness Keterampilan teamwork dan interconnectedness harus menjadi perhatian utama dunia pendidikan. Keterampilan ini sangat penting baik dalam kehidupan masyarakat ataupun di tempat kerja. Hasil survei Conference Board (2006, dikutip Scott, 2015b) menemukan bahwa profesionalisme, etika kerja yang baik, komunikasi secara lisan dan tertulis, kerja tim, kolaborasi, berpikir kritis dan kemampuan memecahkan masalah merupakan keterampilan paling penting. Keterampilan-keterampilan ini memungkinkan seseorang mendapatkan nilai lebih di mata kolega sekaligus berkembang di lingkungan kerja yang kolaboratif (Redecker et al., 2011). Di antara kompetensi penting di abad ke-21 adalah kemampuan untuk membantu perkembangan kerjasama interdisipliner dan pertukaran ide-ide global untuk melawan potensi diskriminasi karena suku, jenis kelamin atau usia (Leis, 2010).
a. Civic dan digital citizenship
Civic literacy (literasi bermasyarakat) merupakan keterampilan penting, karena siswa perlu mengetahui hak dan kewajiban warganegara di lingkup lokal, regional, dan nasional; mengembangkan motivasi, watak dan keterampilan untuk berpartisipasi dalam masyarakat; dan memahami dampak dari masalah kemasyarakatan secara lokal dan global (P21, 2013). Selain hal tersebut, keterampilan abad ke-21 yang lain adalah digital citizenship (masyarakat yang melek digital) – memahami bagaimana cara untuk berpartisipasi secara produktif dan bertanggung jawab secara online (P21, 2013). Hal ini penting untuk membantu siswa dalam memahami bagaimana untuk berpartisipasi dengan cerdas dan etis sebagai warga negara yang bertanggung jawab dalam komunitas virtual. Hal ini melibatkan pembelajaran tentang bagaimana mengakses reliabilitas dan kualitas dari informasi yang ditemukan dari internet dan menggunakan informasi yang diperoleh secara bertanggung jawab (Davies, Fidler dan Gorbis, 2011). Sekolah perlu mengatur bagaimana siswa belajar dan berlatih menggunakan teknologi secara bertanggung jawab (misalnya cara
mengaskes data, perlindungan terhadap hal-hal yang bersifat privasi, cara mendeteksi penipuan, plagiarisme, kekayaan intelektual hak dan anonimitas) dan bagaimana menjadi digital citizens yang baik.
b. Kompetensi global
Siswa yang memiliki kompetensi global akan mampu mengambil tindakan melalui banyak cara dan cenderung menganggap diri mereka sebagai warga dunia, bukan dari warga bangsa tertentu. Mereka mampu menggunakan keterampilan berpikir kritis untuk mensurvei dan memikirkan masalah yang perlu diprioritaskan, mengidentifikasi solusi yang dapat dilakukan, menilai solusi yang dipilih dan rencana tindakan yang akan dilakukan berdasarkan bukti, dan mempertimbangkan dampak potensial dan konsekuensi yang mungkin muncul dari tindakan yang akan dilakukan.
Siswa yang memiliki kompetensi global akan berhati-hati dalam mempertimbangkan beberapa pendekatan sebelumnya dan perspektif orang lain. Mereka bertindak secara etis dan kolaboratif (dengan cara yang kreatif) untuk memberikan kontribusi bagi pembangunan lokal, regional ataupun global. Siswa yang memiliki kompetensi global tidak beranggapan bahwa mereka mampu menangani tantangan yang kompleks sendirian, namun mampu merefleksi seberapa besar kapasitas mereka untuk menyelesaikan tugas yang diberikan dan mencari kesempatan berkolaborasi untuk bergabung dengan orang lain yang akan melengkapi kekuatannya (Mansilla and Jaskson, 2011).
c. Kompetensi antar budaya
Kemampuan untuk memahami dan berkomunikasi dengan masyarakat lintas budaya atau yang memiliki kebudayaan yang berbeda adalah prasyarat mendasar di dunia kerja. Semua siswa perlu mendapatkan kompetensi antarbudaya. Untuk alasan ini, pendidikan antarbudaya, yang bertujuan untuk mengembangkan dan meningkatkan kemampuan ini, dapat memberikan kontribusi untuk menjaga kedamaian dan pembelajaran inklusif (Barrett et al., 2014). Kompetensi antarbudaya tidak diperoleh secara otomatis, melainkan harus dipelajari, dipraktikkan dan dipelihara sepanjang hidup. Guru memiliki peran yang sangat penting dalam memfasilitasi pengembangan kompetensi antarbudaya di antara siswa (Barrett et al., 2014).
Sikap saling menghormati dan toleransi sangat penting untuk memastikan bahwa pandangan individu dari semua latar belakang budaya diakui dan dihormati dalam masyarakat yang multikultural. Hal yang sangat penting adalah siswa dapat belajar untuk mendengarkan orang lain, menunjukkan fleksibilitas, dan bekerja sama dengan kontributor dalam tim yang berasal dari berbagai budaya dan berbagai rumpun ilmu pengetahuan. Ini adalah kompetensi yang sangat penting dan tidak boleh dilewatkan oleh masyarakat abad ke-21 (Barrett et al, 2014). Berdasarkan hal tersebut maka jelas bahwa pendidikan memiliki peran yang signifikan bahkan fundamental dalam menawarkan kesempatan kepada pelajar abad ke-21 untuk mengembangkan kompetensi yang memungkinkan mereka dapat hidup damai dengan kondisi budaya yang beragam (Carneiro dan Draxler, 2008).
PEMBELAJARAN ABAD KE-21
Sejak munculnya gerakan global yang menyerukan model pembelajaran baru untuk abad ke-21, telah berkembang pendapat bahwa pendidikan formal harus diubah. Perubahan ini penting untuk memunculkan bentuk-bentuk pembelajaran baru yang dibutuhkan dalam mengatasi tantangan global yang kompleks. Identifikasi kompetensi siswa yang perlu dikembangkan merupakan hal yang sangat penting untuk menghadapi abad ke-21. Pendekatan tradisional yang menekankan pada hafalan atau penerapan prosedur sederhana tidak akan mengembangkan keterampilan berpikir kritis atau kemandirian siswa. Setiap individu harus terlibat dalam pembelajaran berbasis inkuiri yang bermakna, memiliki nilai kebenaran dan relevansi, untuk mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi yang mereka perlukan (Barron and Darling-Hammond, 2008).
Setiap siswa belajar dengan cara yang berbeda-beda, sehingga guru ditantang untuk menemukan cara membantu semua siswa belajar secara efektif. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa terdapat bentuk-bentuk pedagogi yang secara konsisten lebih berhasil dari yang lain dalam membantu siswa memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang keterampilan abad ke-21.
Pedagogi yang dimaksud termasuk strategi pembelajaran pribadi, pembelajaran kolaboratif dan pembelajaran informal, seperti yang dinyatakan oleh Scott (2015c) dari berbagai referensi.
Siswa harus mengasah keterampilan dan meningkatkan belajar untuk dapat mengatasi tantangan global, seperti keterampilan berpikir kritis, kemampuan berkomunikasi secara efektif, berinovasi dan memecahkan masalah melalui negosiasi dan kolaborasi. Namun demikian, dari sisi pedagogi belum disesuaikan untuk mengatasi tantangan-tantangan tersebut. Model pembelajaran 'transmisi' masih dominan dalam pendidikan di berbagai belahan dunia (Saavedra dan Opfer, 2012). Model 'transmisi' tidak efektif untuk mengajarkan keterampilan abad ke-21. Pembelajaran semacam ini biasanya mengarah kepada ketidakpedulian, sikap apatis dan kebosanan. Sebaliknya, siswa harus belajar berinteraksi dengan guru dan teman sebaya, berlatih menerapkan keterampilan dan pengetahuan yang baru diperoleh, berbagi dengan teman-temannya melalui kolaborasi yang dirancang untuk mendukung setiap individu dalam beradaptasi terhadap masalah baru dan kontekstual. Tanpa kesempatan untuk berlatih dan menerapkan pengetahuan baru dalam berbagai konteks, adaptasi dan integrasi pengetahuan baru tidak akan tercapai dan akan melumpuhkan kreativitas. Meskipun secara umum diakui bahwa kompetensi dan keterampilan abad ke-21 yang kompleks dan menantang untuk dipelajari, namun bahwa siswa tidak mengembangkannya kecuali mereka secara eksplisit diajarkan. Saavedra dan Opfer (2012) menyatakan bahwa bahwa kompetensi dan keterampilan yang kompleks tersebut harus dikembangkan terpadu dengan pembelajaran dan bukan dengan pembelajaran tersendiri.
Di antara ragam kompetensi dan keterampilan yang diharapkan berkembang pada siswa sehingga perlu diajarkan pada siswa di abad ke-21 di antaranya adalah personalisasi, kolaborasi, komunikasi, pembelajaran informal, produktivitas dan content creation. Elemen tersebut juga merupakan kunci dari visi keseluruhan pembelajaran abad ke-21. Dunia kerja juga sangat memerlukan keterampilan personal (memiliki inisiatif, keuletan, tanggung jawab, berani mengambil resiko, dan kreatif), keterampilan sosial (bekerja dalam tim, memiliki jejaring, memiliki empati dan rasa belas kasih), serta keterampilan belajar (mengelola, mengorganisir, keterampilan metakognitif, dan tidak mudah patah semangat atau merubah persepsi/sudut pandang dalam menghadapi kegagalan).
DAFTAR RUJUKAN
Ananiadou, K. and Claro, M. 2009. 21st Century Skills and Competences for New Millennium Learners in OECD Countries. OECD Education Working Papers, No. 41. Paris, OECD Publishing.
Barrett, M., Byram, M., Lázár, I., Mompoint-Gaillard, P. and Philippou, S. 2014. Developing Intercultural Competence through Education. Pestalozzi Series No. 3. Strasbourg, Council of Europe Publishing.
Barron, B. and Darling-Hammond, L. 2008. Teaching for meaningful learning: a review of research on inquiry-based and cooperative learning. L.
Barry, M. 2012. What skills will you need to succeed in the future? Phoenix Forward (online). Tempe, AZ, University of Phoenix.
YUKSS DISKUSI ADA YANG PENGEN DIBAHAS NIE!!
1. Bagaimana menerapkan pembelajarran tersebut pada sekolah yang berada di daerah tertinggal ( 3T) dan GAPTEK ?
2.Bagaimana menerapkan pembelajaran tersebut pada siswa yang difabel atau memiliki keterbatasan fisik?
3.Bagaimana menerapkan pembelajaran tersebut pada siswa yang lemah secara emosi misalnya tidak mood,lelah serta ada masalah tertentu?
Kamis, 20 September 2018
Kamis, 13 September 2018
MODEL PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL DAN KOLABORATIF
1.
Pengertian
Model Pembelajaran Kolaboratif
Pembelajaran
kolaboratif didefenisikan sebagai falsafah tentang tanggung jawab pribadi dan
sikap menghormati sesama. Para pelajar bertanggung jawab atas belajar mereka
sendiri dan berusaha menemukan informasi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan
yang dihadapkan pada mereka. Guru bertindak sebagai fasilitator, memberikan
dukungan tetapi tidak menyetir kelompok kearah hasil yang sudah disiapkan sebelumnya.
Menurut
Deutch dalam Mahmudi (2006:61), pembelajaran kolaboratif adalah pembelajaran
yang menggunakan kelompok-kelompok kecil siswa yang bekerja sama untuk
memaksimalkan hasil belajar mereka. Lebih khusus, Gokhale (1995) mendefinisikan
pembelajaran kolaboratif sebagai pembelajaran yang menempatkan siswa dengan
latar belakang dan kemampuan yang beragam bekerja bersama dalam suatu kelompok
kecil untuk mencapai tujuan akademik bersama. Setiap siswa dalam suatu kelompok
bertanggung jawab terhadap sesama anggota kelompok. Dalam pembelajaran
kolaboratif, siswa berbagi peran, tugas, dan tanggung jawab guna mencapai
kesuksesan bersama.
Pengertian
pembelajaran kolaboratif sering disamakan dengan pembelajaran kooperatif, meski ada juga yang membedakannya.
Misalnya, Panitz (1996) mendefinisikan pembelajaran
kooperatif sebagai sekumpulan proses yang dilakuan guru untuk membantu siswa agar dapat berinteraksi sesamanya untuk
mencapai tujuan spesifik tertentu. Hal ini lebih menempatkan guru sebagai pengarah dan
mengontrol pembelajaran daripada memberikan
kesempatan kepada siswa untuk berkolaborasi (Mahmudi,2006:62)
2. Langkah-Langkah
Pembelajaran Kolaboratif
Berikut ini langkah-langkah pembelajaran kolaboratif:
1. Para siswa dalam kelompok menetapkan tujuan belajar dan membagi tugas sendiri-sendiri.
2. Semua siswa dalam kelompok membaca, berdiskusi, dan menulis.
3. Kelompok kolaboratif bekerja secara bersinergi mengidentifikasi,
mendemontrasikan, meneliti, menganalisis, dan memformulasikan jawaban-jawaban
tugas atau masalah dalam LKS atau masalah yang ditemukan sendiri.
4. Setelah kelompok kolaboratif menyepakati hasil pemecahan masalah,
masing-masing siswa menulis laporan sendiri-sendiri secara lengkap.
5. Guru menunjuk salah satu kelompok secara acak (selanjutnya diupayakan agar
semua kelompok dapat giliran ke depan) untuk melakukan presentasi hasil diskusi
kelompok kolaboratifnya di depan kelas, siswa pada kelompok lain mengamati,
mencermati, membandingkan hasil presentasi tersebut, dan menanggapi. Kegiatan
ini dilakukan selama lebih kurang 20-30 menit.
6. Masing-masing siswa dalam kelompok kolaboratif melakukan elaborasi,
inferensi, dan revisi (bila diperlukan) terhadap laporan yang akan dikumpulan.
7. Laporan masing-masing siswa terhadap tugas-tugas yang telah dikumpulkan,
disusun perkelompok kolaboratif.
8. Laporan siswa dikoreksi, dikomentari, dinilai, dikembalikan pada pertemuan
berikutnya, dan didiskusikan.
3. Karakteristik Pembelajaran Kolaboratif
Beberapa
karakteristik pembelajaran kolaboratif, yakni:
1. Ketergantungan
positif
Ketergantungan yang positif
antarsiswa dalam suatu kelompok menjadi prasyarat terjadinya kerja sama yang
positif. Ketergantungan positif akan terjadi jika setiap anggota kelompok
menyadari bahwa seseorang tidak dapat berhasil tanpa melibatkan keberhasilan
anggota lainnya.
2. Interaksi
Interaksi antaranggota kelompok
menjadi demikian penting karena terdapat aktivitasaktivitas kognitif penting
dan kecakapan interpersonal yang dinamis hanya terjadi jika terdapat interaksi
yang dinamis. Aktivitas kognitif dan kecakapan interpersonal yang dinamis itu
dapat dicapai melalui berbagai aktivitas seperti mempresentasikan hasil
diskusi, berbagi pengetahuan dengan anggota kelompok lain, dan mengecek
pemahaman. Adanya interaksi antaranggota kelompok memungkinkan terwujudnya
sistem dukungan akademik, yakni setiap anggota mepunyai komitmen untuk membantu
anggota kelompok lain.
3. Pertanggungjawaban
individu dan kelompok
Dalam pembelajaran kolaboratif, tidak hanya keberhasilan kelompok saja yang
menjadi perhatian, namun keberhasilan
setiap anggota kelompok sangat dipentingkan. Pembelajaran kolaboratif juga
dimaksudkan untuk membuat siswa kuat secara individual. Kelompok harus
bertanggung jawab dalam hal pencapaian tujuan dan masing-masing anggota kelompok
harus bertanggungjawab terhadap kontribusinya dalam kelompok.
Pertanggungjawaban individu hanya akan terjadi jika kinerja tiap individu
dinilai dan hasilnya diberikan kembali ke kelompok dan individu yang
bersangkutan guna memastikan anggota yang memerlukan bantuan, dukungan, atau
penguatan belajar.
4. Pengembangan
kecakapan interpersonal
Perlu disadari bahwa kecakapan
sosial tidak secara spontan tampak ketika pembelajaran kolaboratif
dilaksanakan. Kecakapan sosial seperti kepemimpinan (leadership), kemampuan
membuat keputusan, membangun kepercayaan, berkomunikasi, dan managemen konflik
diharapkan dapat terbetuk melalui pembelajaran kolaboratif yang kontinu dan
berkesinambungan.
5. Pembentukan
kelompok heterogen
Pembentukan kelompok dilakukan
dengan mempertimbangkan agar setiap anggota dapat berdiskusi sehingga mencapai
tujuan mereka dan membangun hubungan kerja yang efektif. Dalam pembentukan
kelompok perlu dideskripsikan tugas setiap anggota kelompok. Terdapat beberapa
prinsip dalam pembentukan kelompok kolaboratif, di antaranya perlunya
mengakomodasi heterogenitas siswa, seperti mengkombinasikan siswa yang pendiam
dengan siswa yang relatif mudah berkomunikasi, siswa yang rendah diri dan
optimistis, siswa yang mempunyai motivasi tinggi dan rendah diri.
6. Berbagi
pengetahuan antara guru dan siswa
Pada pembelajaran tradisional,
diyakini pengetahuan mengalir hanya dari guru ke
siswa. Tidak demikian halnya pada pembelajaran
kolaboratif. Dalam pembelajaran
kolaboratif, guru menghargai dan
mengembangkan pembelajaran berdasarkan pengetahuan, pengalaman pribadi,
strategi, dan budaya yang dibawa siswa.
7. Berbagi
otoritas antara guru dan siswa
Pada pembelajaran tradisional,
menetapkan tujuan pembelajaran, mendesain tugastugas belajar, dan menilai
(mengevaluasi) apa yang telah dipelajari siswa menjadi otoritas guru secara
dominan. Tidak demikian halnya pada pembelajaran kolaboratif. Dalam kelas
kolaboratif, guru berbagi oritas dengan siswa dengan cara yang spesifik. Guru
melibatkan siswa secara aktif dalam penetapan tujuan belajar, pendesaian
tugas-tugas, dan evaluasi ketercapaian tujuan belajar.
8. Guru sebagai
mediator
Dalam pembelajaran kolaboratif, guru
berperan sebagai mediator. Dalam hal ini guru
membantu siswa untuk menghubungkan
pengetahuan baru dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa, membantu siswa
menggambarkan mengenai apa yang harus dikerjakan ketika mereka mengalami
masalah, dan membantu siswa belajar bagaimana belajar (learn how to learn).
4. Evaluasi Pembelajaran Kolaboratif
Tidak mudah
untuk mengevaluasi pembelajaran kolaboratif. Evaluasi dapat dilakukan terhadap banyak aspek, tidak hanya pada hasil
belajar kognitif. Sebagai contoh, evaluasi dapat dilakukan terhadap kemampuan siswa
berdikusi. Karena memiliki keterbatasan pengamatan,
guru dapat memilih peer evaluation (penilaian teman sebaya). Setiap siswa harus menilai teman sekelomponya terhadap
beberapa aspek.
5. Kelebihan dan Kekurangan Model
Kolaboratif
a.
Kelebihan
Ada banyak keunggulan yang bisa
didapat dengan collaborative learning oleh siswa antara lain:
1) melatih rasa peduli, perhatian dan
kerelaan untuk berbagi,
2) meningkatkan rasa penghargaan
terhadap orang lain,
3) melatih kecerdasan emosional,
4) mengutamakan kepentingan kelompok
dibandingkan kepentingan pribadi,
5) mengasah kecerdasan interpersonal,
6) melatih kemampuan bekerja sama, team
work,
7) murid tidak malu bertanya kepada
temannya sendiri,
8) meningkatkan motivasi dan suasana
belajar.
b.
Kelemahan
Kelemahan yang dalam collaborative learning:
1.
Murid yang lebih pintar, bila belum mengerti tujuan yang sesungguhnya dari
proses belajar ini, akan merasa sangat dirugikan karena harus repot-repot
membantu temannya.
2.
Murid ini juga akan merasa keberatan karena nilai yang ia peroleh ditentukan
oleh prestasi atau pencapaian kelompoknya.
3.
Bila kerja sama tidak dapat dijalankan dengan baik, maka yang akan bekerja
hanyalah beberapa murid yang pintar dan aktif saja.
MODEL
PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL
1. Pengertian Pembelajaran Kontekstual
(CTL : Contextual
Teaching and Learning)
Pembelajaran kontekstual merupakan
pembelajaran yang mengkaitkan materi pembelajaran dengan konteks dunia nyata
yang dihadapi siswa sehari-hari baik dalam lingkungan keluarga, masyarakat,
alam sekitar dan dunia kerja, sehingga siswa mampu membuat hubungan antara
pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
Pembelajaran
Konstekstual (Contextual Teaching and Learning) adalah konsep belajar yang
membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia
nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang
dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan
melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif, yakni : konstruktivisme
(Constructivism), bertanya (Questioning), menemukan (Inquiry), masyarakat
belajar (Learning Conzmunity), pemodelan (Modeling), refleksi (reflection), dan
penilaian sebenarnya (Aunthentic Assesment) (Darmadi, 2017:341)
Sistem pembelajaran kontekstual adalah proses
pendidikan yang bertujuan membantu siswa melihat makna dalam materi akademik
yang mereka pelajari dengan jalan menghubungkan mata pelajaran dengan akademik
dengan isi kehidupan sehari-hari, yaitu dengan konteks kehidupan pribadi,
sosial dan budaya. Pembelajaran kontekstual sebagai suatu model pembelajaran
yang memberikan fasilitas kegiatan belajar siswa untuk mencari, mengolah,dan
menemukan pengalaman belajar yang bersifat konkret melalui keterlibatan
aktivitas siswa dalam mencoba, melakukan, dan mengalami sendiri. Dengan
demikian, pembelajaran tidak sekedar dilihat dari sisi produk, akan tetapi yang
terpenting adalah proses (Rusman, 2017:322).
Beberapa
karakteristik Pembelajaran Berbasis Contextual Teaching and Learning
(Sihono,200:80);
a.
Kerjasama
b.
Saling menunjang
c.
Menyenangkan, tidak membosankan
d.
Belajar dengan gairah
e.
Pembelajaran terintegrasi
f.
Menggunakan berbagai sumber
g.
Siswa aktif
h.
Sharing dengan teman
i.
Siswa Kritis, dan Guru Kreatif
j. Dinding kelas & lorong-lorong
penuh dengan hasil karya siswa, peta-peta, gambar, artikel, humor, dan lain
sebagainya
k.
Laporan kepada orang tua bukan hanya rapor, tetapi hasil karya siswa, laporan hasil
praktikum, karangan siswa, dan sebagainya.
2.
Komponen
Pembelajaran Kontekstual
Ada
tujuh komponen utama dalam pembelajaran kontekstual, yaitu:
a.
Constructivism
(Konstruktivisme)
Kontrukstivisme
merupakan landasan berpikir pendekatan CTL, yaitu pengetahuan dibangun
oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperkuat melalui
konteks yang terbatas (sempit) dan tidak tiba-tiba.
Dalam
konteks pembelajaran, konstruktivisme lebih menekankan pada aktivitas
siswa dalam menemukan pemahaman mereka sendiri daripada kemampuan
menghafal teori-teori yang ada dalam buku pelajaran saja. Pada umumnya
cara menerapkan komponen ini dalam pembelajaran adalah dengan merancang
pembelajaran dalam bentuk siswa bekerja, praktik mengerjakan sesuatu, berlatih
secara fisik, menulis karangan, menciptakan ide dan lain sebagainya.
b.
Inquiry (Menemukan)
Menemukan
merupakan bagian inti dari pembelajaran berbasis CTL, artinya proses
pembelajaran didasarkan pada pencapaian dan penemuan melalui proses berpikir
secara sistematis. Inkuiri merupakan proses perpindahan dari pengamatan menjadi
pemahaman, dalam proses ini siswa belajar menggunakan keterampilan berpikir
kritis untuk memperoleh seperangkat pengetahuan. Untuk merealisasikan komponen
inkuiri di kelas, terutama dalam proses perencanaan guru bukanlah mempersiapkan
sejumlah materi yang harus dihafal siswa, akan tetapi merancang pembelajaran
yang memungkinkan siswa dapat menemukan sendiri materi yang harus dipahaminya.
Siklus inkuiri pada umumnya meliputi: observasi (observation), bertanya (questioning), mengajukan dugaan (hypothesis), pengumpulan data (collecting data), dan penyimpulan (conclusion).
c.
Questioning (Bertanya)
Semua
ilmu pengetahuan yang dimiliki seseorang selalu bermula dari bertanya. Salah
satu faktor psikologi yang mendorong seseorang untuk belajar adalah adanya
sifat ingin tahu dan ingin menyelidiki apa yang ada dalam kehidupan di dunia
yang lebih luas. Bertanya merupakan kegiatan yang sangat pokok dan mendasar
bagi guru maupun siswa dalam pembelajaran berbasis CTL. Bertanya merupakan
kegiatan utama dari semua aktivitas belajar, karena dengan kegiatan bertanya
guru dapat memotivasi bahkan bisa menilai sejauh mana keberanian dan kemampuan
berpikir seorang siswa dalam mengkonstruk pengetahuan dan pemahaman yang ingin
didapatkannya.
Sedangkan
bagi siswa kegiatan bertanya adalah hal penting yang perlu dilakukan dalam
pembelajaran berbasis CTL, yakni untuk menggali informasi, mengkonfirmasikan
apa yang sudah diketahui, dan me ngarahkan perhatian pada aspek yang belum
diketahuinya. Kegiatan bertanya merupakan interaksi majemuk (multiple interactions) antara guru
dengan siswa, siswa dengan guru, siswa dengan siswa, dan antara siswa dengan
orang berpengetahuan lainnya. Aktivitas-aktivitas tesebut dapat terlihat jelas
pada saat diskusi, kegiatan dalam komunitas/masyarakat belajar, bekerja secara
berpasangan (work in pairs or in
group), dan
lain sebagainya. Dalam pembelajaran, kegiatan questioning memiliki banyak sekali kegunaan
diantarnya adalah untuk:
1)
menggali informasi, baik yang bersifat administrasi maupun akademis
2)
mengecek tingkat pemahaman siswa
3)
membangkitkan respon siswa
4)
mengukur sejauh mana rasa keingintahuan siswa
5)
mengetahui hal-hal yang belum diketahui siswa
6)
memfokuskan perhatian siswa pada sesuatu yang dikehendaki guru
7)
memberikan stimulus agar siswa bisa memiliki pertanyaan-pertanyaan yang
kreatif, menarik dan menantang
8)
menyegarkan kembali pengetahuan siswa.
d. Learning Community/Society (Kelompok/Masyarakat
belajar)
Leo
Semenovich Vygotsky, seorang psikolog Rusia, menyatakan bahwa pengetahuan dan
pemahaman anak banyak ditopang oleh komunikasi dengan orang lain. Begitu juga
dalam kehidupan, suatu permasalahan tidak mungkin dapat dipecahkan sendiri,
tetapi membutuhkan bantuan dan peran orang lain yakni dalam bentuk kerjasama,
saling memberi dan menerima. Learning community/society adalah kelompok manusia
yang terlibat dalam kegiatan pembelajaran, yang membuat mereka bisa saling
bertukar ide dan pengetahuan untuk memperdalam pemahaman terhadap pengetahuan
yang mereka miliki. Konsep ini didasarkan pada sebuah gagasan bahwa hasil
pembelajaran yang dicapai dengan kerjasama/teamwork akan jauh lebih baik dibandingkan dengan
hasil pencapaian individu.
Hasil
belajar dalam proses learning community dapat
diperoleh dengan cara sharing antar
teman, antar kelompok; yang sudah tahu memberi tahu kepada yang belum tahu,
yang pernah memiliki pengalaman membagikan pengalamannya pada orang lain, juga
melalui informasi yang didapat di ruang kelas, luar kelas, keluarga, serta
masyarakat di lingkungan sekitar yang merupakan bagian dari komponen masyarakat
belajar.
Dalam
kelas CTL, learning community terlihat
saat siswa belajar secara berkelompok. Pada umumnya siswa dibagi dalam kelompok
yang anggotanya heterogen, baik dari segi kemampuan akademisnya, jenis kelamin,
asal daerah, dan lain sebagainya.
Model
pembelajaran dengan teknik learning community sangat membantu proses
pembelajaran di kelas. Praktiknya dalam pembelajaran terwujud dalam (Sihono,
2004:78) :
1)
pembentukan kelompok kecil
2)
pembentukan kelompok besar
3) mendatangkan ahli,
tokoh, olahragawan, dokter, perawat, petani, polisi, tukang kayu, teknisi, dan
sebagainya ke kelas
4)
bekerja dengan kelas sederajat
5)
bekerja kelompok dengan kelas di atasnya
6)
bekerja dengan masyarakat.
e. Modelling (Pemodelan)
Modelling atau pemodelan adalah
sebuah pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu, dengan menyediakan
model yang bisa diamati dan ditiru oleh setiap siswa. Misalnya: guru fisika
memberikan contoh bagaimana cara mengoperasikan sebuah alat, guru bahasa
mengajarkan bagaimana cara melafalkan sebuah kalimat asing, guru olahraga
memberikan contoh bagaimana cara melempar bola, dan lain sebagianya. Dalam
kelas CTL, kegiatan modelling tidak
menjadikan guru sebagai satusatunya model dalam belajar, tetapi dapat juga
memanfaatkan siswa yang dianggap memiliki kemampuan untuk
memperagakan/mendemonstrasikan sesuatu di depan kelas kepada teman-temannya,
seorang ahli yang didatangkan di kelas, media belajar dan lain-lain.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi,
rumitnya permasalahan hidup yang dihadapi, tuntutan siswa yang semakin
berkembang dan beraneka ragam, telah berdampak pada kemampuan guru yang
memiliki kemampuan lengkap, dan ini yang sulit dipenuhi. Oleh karena itu, maka
kini guru bukan lagi satu-satunua sumber belajar bagi siswa, karean dengan
segala kelebihan dan keterbatasan yang dimiliki oleh guru akan mengalami
hambatan untuk memberikan pelayanan sesuai dengan keinginan dan kebutuhan siswa
yang cukup heterogen. Oleh karena itu, tahap pembuatan model dapat dijadikan
alternatif untuk mengembangkan pembelajaran agar siswa bisa memenuhi harapan
siswa secara menyeluruh, dan membantu mengatasi keterbatsan yang dimiliki oleh
para guru (Rusman, 2017:328).
f.
Reflection (Refleksi)
Refleksi
berarti upaya think back (berpikir
ke belakang) atau kegiatan flash back,
yakni berpikir tentang apa yang sudah dilakukan di masa lalu, dan berpikir
tentang apa yang baru dipelajari dalam sebuah pembelajaran oleh siswa
(Risman,2017: 328). Dalam hal ini siswa mengendapkan apa yang baru
dipelajarinya sebagai struktur pengetahuan yang baru, yang merupakan pengayaan
atau revisi dari pengetahuan sebelumnya. Dengan
kata lain, refleksi merupakan respon terhadap kejadian, aktivitas, atau
pengetahuan yang baru diterima.
g. Authentic Assessment (Penilaian
Sebenarnya)
Assessment adalah proses
pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran pengetahuan
perkembangan belajar siswa. Gambaran perkembangan belajar siswa perlu diketahui
oleh guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami proses pembelajaran dengan
benar. Gambaran kemajuan belajar siswa, diperlukan sepanjang proses
pembelajaran, maka penilaian autentik tidak hanya dilakukan di akhir periode
(akhir semester) tetapi dilakukan secara terintegrasi dan secara terus-menerus
selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Penilaian yang dilakukan menekankan
pada proses pembelajaran, maka data yang terkumpul harus diperoleh dari
kegiatan nyata yang dikerjakan siswa pada saat melakukan proses pembelajaran.
Menurut Mihmidaty dalam Amali (2012) Penilaian
ini memberi isyarat pada para pendidik agar dapat melaksanakan penilaian dengan
didukung data yang valid, reliable,
dan menyeluruh sehingga hasil yang diperoleh dari penilaian kelas CTL dapat
memenuhi sasaran untuk mencapai tujuan pendidikan dengan sebaik-baiknya. Dalam
kelas CTL, pada umumnya terdapat empat jenis penilaian autentik,
yakni:portofolio, pengukuran kinerja, proyek, dan jawaban tertulis.
3.
Skenario
Pembelajaran Kontekstual
Menurut Rusman
(2017:323) Sebelum melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran
kontekstual, tentu saja guru terlebih dahulu membuat desain/skenario
pembelajarannya, sebagai pedoman umum sekaligus sebagai alat kontrol dalam pelaksanaannya.
Pada intinya, setiap pengembangan komponen pembelajaran kontekstual tersebut
dalam pembelajaran dapat dilakukan melalui langkah-langkah berikut:
1 . Mengembangkan
pemikiran siswa untuk melakukan kegiatan belajar lebih bermakna dengan apakah
dengan cara kerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengkontruksi sendiri pengetahuan
dan keterampilan baru yang harus akan dimilikinya.
2. Melaksanakan
sejauh mungkin kegiatan Inguiry untuk semua topik yang diajarkan.
3. Mengembangkan
sifat ingin tahu siswa melalui memunculkan pertanyaan-pertanyaan.
4. Menciptakan
masyarakat belajar, seperti melalui kegiatan berdiskusi, dan tanya jawab.
5. Menghadirkan
model sebagai contoh pembelajaran, bisa melalui ilustrasi, model bahkan media
sebenarnya.
6. Membiasakan
anak untuk melakukan refleksi dari setiap kegiatan pembelajaran yang telah
dilakukan.
7. Melakukan
penilaian secara objektif, yaitu menilai kemampuan yang sebanrnya pada setiap
siswa
Secara
umum, tidak ada perbedaan mendasar antara format program pembelajaran
konvensional seperti yang biasa dilakukan oleh guru-guru selama ini. Adapun
yang membedakannya, terletak pada penekannanya, dimana pada model konvensional
lebih menekankan pada deskipsi tujuan yang akan dicapai (jelas dan
operasional), sementara program pembelajaran kontekstual lebih menekankan skenario
pembelajarannya, yaitu tahap demi tahap yang dilakukan oleh guru dan siswa
dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan.
Oleh karena itu,
program pembelajaran kontekstual (CTL) hendaknya (Rusman,2017:330):
1. Nyatakan kegiatan utama pembelajarannya,
yaitu sebuah pernyataan kegiatan siswa yang merupakan gabungan antara
kompetensi dasar, materi pokok, dan indikator pencapaian hasil belajar.
2. Rumuskan dengan jelas tujuan umum
pembelajarannya.
3. Uraikan secara terperinci media dan
sumber pembelajaran yang akan digunakan untuk mendukung kegiatan pembelajaran
yang diharapkan.
4. Rumuskan skenario tahap demi tahap
kegiatan yang harus dilakukan siswa dalam melakukan prses pembelajarannya,
5. Rumuskan dan lakukan sistem penilaian
dengan menfokuskan pada kemampuan sebenarnya yang dimiliki oleh siswa baik pada
saat berlangsungnya (proses) maupun setelah siswa tersebut selesai belajar.
4. Kelebihan
dan Kekurangan CTL (Contextual
Teaching and Learning)
a. Kelebihan
1)
Pembelajaran menjadi lebih bermakna dan riil
Artinya siswa dituntut untuk dapat menangkap
hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata. Hal ini
sangat penting, sebab dengan dapat mengorelasikan materi yang ditemukan dengan
kehidupan nyata, bukan saja bagi siswa materi itu akan berfungsi secara
fungsional, akan tetapi materi yang dipelajarinya akan
tertanam
erat dalam memori siswa, sehingga tidak akan mudah dilupakan.
2)
Pembelajaran lebih produktif
Pembelajaran CTL, mampu menumbuhkan penguatan konsep
kepada siswa karena metode pembelajaran CTL menganut aliran konstruktivisme,
yang mengarahkan siswa untuk menemukan pengetahuannya sendiri. Melalui landasan
filosofis konstruktivisme siswa diharapkan dapat belajar melalui mengalami
bukan menghafal
b. Kekurangan
Kekurangan pembelajaran kontekstual diantaranya
adalah orientasi yang melibatkan siswa sehingga guru harus memahami secara
mendasar tentang perbedaan potensi individu tiap-tiap siswa. Pembelajaran ini
pada dasarnya membutuhkan berbagai sarana dan media yang variatif. Untuk
mengatasi kelemahan tersebut maka baik guru maupun siswa perlu melakukan upaya
berikut:
1)
Bagi Guru
Guru harus memiliki kemampuan untuk memahami secara
mendalam tentang konsep pembelajaran itu sendiri, potensi perbedaan individu
siswa dikelas, beberapa pendekatan pembelajaran yang berorientasi kepada
aktivitas siswa dan sarana, media, alat bantu serta kelengkapan pembelajaran
yang menunjang aktivitas siswa dalam belajar.
2)
Bagi Siswa
Diperlukan inisiatif dan kreativitas dalam belajar,
diantaranya: memiliki wawasan pengetahuan yang memadai dari setiap mata
pelajaran, adanya perubahan sikap dalam menghadapi persoalan dan memiliki
tanggung jawab yang tinggi dalam meyelesaikan tugas – tugas.
DISKUSI :
1. Apakah model pembelajaran kolaboratif dan
model kontekstual sudah banyak diterapkan saat proses pembelajaran ?
2. Ketika
seorang guru ingin menerapkan model pembelajaran kolaboratif bagaimana dengan siswa yang tidak aktif saat sedang berdiskusi yang kebanyakan hanya mengandalkan teman ?
3. Apabila di sekolah tertentu kurang sarana dan prasarana yang menunjang manakah dari model pembelajaran tersebut yang dapat digunakan?
Langganan:
Postingan (Atom)
SUKMA PRABOWO
THE MADELINE HUNTER MODEL SINTAK MODEL PEMBELAJARAN MADELINE HUNTER FASE SINTAK AWAL INOVASI SINTAK ...
-
MODEL PEMBELAJARAN KOLABORATIF 1. Pengertian Model Pembelajaran Kolaboratif Pembelajaran kolaboratif didefenisikan sebagai...
-
SISTEM PENILAIAN PROSES PEMBELAJARAN Penilaian adalah proses memberikan atau menentukan nilai kepada objek tertentu berdasarkan suatu...

